Thursday, April 16, 2009

Sepucuk surat dari seorang ayah


PERINGATAN BUATMU UZAINI….

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki, surat seorang ayah kepada seorang ayah.

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karana ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasihat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.

Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.



Yang Benar,
Ayahanda Mu.

Tuesday, March 10, 2009

Menyingkap 1001 Hikmah Solat Subuh....


" Pernah, salah seorang penguasa Yahudi,
menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam kecuali pada satu hal. Ialah bila jumlah jamaah shalat Subuh menyamai jumlah jamaah shalat Jumaat "

"Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya" Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau buruk, maka buruklah seluruh amalnya. à Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

"Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya' dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak" [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya;
hanya dua rakaat saja. Namun, ia menjadi standard keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karana waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah
menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

"Syaitan melilit leher seorang di antara kalian/kamu dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, 'Nikmatilah malam yang panjang ini'. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu,
lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian
apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lambat dan malas".

Jawablah dengan jujur :

Ketika Anda harus berangkat keluar kota dengan menggunakan pesawat terbang atau kereta api pada pukul 05:00 pagi, mampukah dengan potensi diri Anda tiba di bandar atau tempat tersebut tepat pada waktunya? Apakah ada kelonggaran bagi Anda untuk datang terlambat ?

Apabila ada seorang pengusaha yang berjanji akan memberi Anda wang setiap hari pada pukul 05:00 pagi sebesar RM 1 juta jika Anda datang tepat pada waktunya, apakah Anda akan mendatanginya awal? Apakah Anda akan beralasan bahawa Anda tidur terlambat, sehingga Anda tidak sempat datang awal?

Jika Anda benar-benar dapat memenuhi keinginannya, sehingga Anda mendapat RM365 juta dalam setahun, lalu keesokan harinya ajal datang menjemput.Bayangkan Anda dibawa dengan keranda menuju liang lahat. Jika Anda berada di posisi ini, jawablah dengan jujur :
"Apakah Anda senang masuk liang lahat dengan membawa RM 365 juta, dan tidak melaksanakan shalat Subuh walau sekalipun?"
"Ataukah lebih utama bila Anda masuk liang lahat dengan membawa 365 shalat Subuh, dan Anda tidak bawa Wang walau hanya seribu RM?"
Jawablah dengan sejujur-jujurnya! Manakah yang lebih kekal dan
bermanfaat?

"Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya' dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat"
[HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]


Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya
kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga,Insya Allah.

"Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh lima lipat ganda.
Malaikat penjaga
malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh". "Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - 'Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?' Mereka menjawab, 'Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga'. " [HR Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita - walau shalat di masjid diperbolehkan - shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pemuda sedang shalat di masjid.

"Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan,dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka" [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]


Banyak permasalahan, yang bila diuruti, bersumber dari pelaksanashalat Subuh yang dilalaikan atau ditinggalkan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. "Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?" (QS Huud:81)

Rutin harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh.Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

"Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS Muhammad : 7)

"Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa" (QS Al-Hajj:40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :
1. Ikhlaskan niat karana Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya
2. Bertekad dan menilai diri Anda setiap hari
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulanginya kembali
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh
5. Carilah kawan yang baik (shalih)
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw
(tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah minum teh dan kopi pada waktu malam hari.
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding
9. Bantulah dengan 3 buah loceng pengingat (jam loceng; telifon; loceng pintu dll)
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.

Dipetik dari :
Buku "MISTERI SHALAT SUBUH"
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Para Pribadi dan Masyarakat
Pengarang : DR. Raghib As-Sirjani
Penerbit : Aqwam

Monday, March 9, 2009

Monday, March 2, 2009

Kemunculan Nabi Isa


SOALAN


Nabi Muhammad SAW adalah rasul terakhir yang menyebarkan agama dan menyempurnakan ajaran Islam kepada umat manusia. Baginda wafat seperti mana seorang makhluk manusia.


Nabi Isa pula yang menyebarkan agama Kristian tidak wafat tetapi diselamatkan dari pembunuhan pengikut agama Kristian sendiri dan Allah naikkan ke langit untuk diturunkan semula ke dunia di akhir zaman sebelum hari kiamat bagi melawan dajal untuk menolong umat manusia sekelian.


Adakah ini bermakna Allah memberi kelebihan atau keistimewaan kepada Nabi Isa untuk menyelamat umat manusia termasuk umat Islam padahal semasa hayat baginda tidak menyebar agama Islam tetapi Kristian. Ini boleh diambil sebagai modal oleh penganut-penganut Kristian untuk mengatakan bahwa Kristian adalah sebenarnya agama yang benar dan diredai tuhan?


JAWAPAN


Firman Allah SWT menjelaskan bahawa setiap sesuatu yang bernyawa pasti akan menemui fitrah kehidupan: Setiap sesuatu yang bernyawa pasti merasakan mati. (ali-‘Imran: 185)


Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang maksudnya: Setiap sesuatu yang bernyawa pasti merasakan mati sesudah itu kepada kami kamu dikembalikan. (al-Ankabut: 57)


Menerusi ayat tersebut jelas bahawa Allah menetapkan kematian ke atas segala sesuatu. Setiap yang ada permulaan pasti ada pengakhirannya. Hanya Allah SWT yang tiada pengakhiran baginya. Selain Allah yang bergelar makhluk ada penghujungnya.


Ini termasuklah Nabi Allah Isa a.s yang akan turun di akhir zaman, iaitu sezaman dengan Imam Mahdi seperti mana dijelaskan dalam hadis-hadis fitan (fitnah) akhir zaman. Kebanyakan riwayat yang menegaskan kedatangan Nabi Isa a.s adalah sahih. Ada sebahagiannya daif malahan ada juga riwayat yang direka oleh golongan pendusta.


Di sini saya tidak akan membincangkan kategori atau kedudukan riwayat-riwayat itu. Malah lebih fokus kepada persoalan meyakini kedatangan Nabi Isa a.s dan mengakhir kehidupan sebagai umat Nabi Muhammad SAW.


Mengikut kepercayaan agama Islam, apa yang dibawa oleh semua dan rasul bermula dari Nabi Adam a.s sehingga Muhammad SAW semuanya adalah agama yang satu bertunjangkan seruan mengesakan Allah SWT semata-mata.


Sekali gus mengajak manusia membebaskan diri daripada pengabdian kepada selain Allah seperti penyembahan berhala atau penyembahan makhluk sesama makhluk.


Rasulullah SAW bersabda, “Sekelian nabi adalah (bagaikan) saudara seibu, dan agama mereka juga satu.” Ayat al-Quran juga menegaskan perkara yang sama: Rasulullah itu telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya daripada Tuhannya, begitu juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata): “Kami tidak membezakan antara seorang (rasul) dengan rasul - rasul yang lain,”...mereka berkata lagi: Kami akur dan Kami taat keampunan-Mulah yang kami harapkan Wahai Tuhan kami, dan kepadamu jualah tempat kembali (kami). (al-Baqarah: 285)


Demikian halnya tentang hubungan antara Nabi Muhammad dengan Nabi Isa berdasarkan sambungan sabda baginda dari hadis di atas, “Dan sesungguhnya aku adalah nabi terdekat dengan Isa ibnu Maryam kerana antara dia dan aku tidak ada nabi.


“Sesungguhnya ia (Isa) akan turun. Apabila kamu melihatnya, maka kenalilah ia lebih dahulu; warna kulitnya putih agak kemerah­merahan, ia mengenakan dua helai pakaian. Rambut kepalanya seakan- akan menitiskan air sekalipun tidak basah, ia mematahkan palang salib dan membunuh babi, memansuhkan pajak dan menyeru manusia untuk memeluk agama Islam. Di zaman turunnya, Allah melenyapkan semua aliran agama kecuali Islam.


“Pada zamannya, Allah membinasakan Dajal, kemudian terciptalah keamanan dan kedamaian di bumi hingga kita akan menyaksikan seekor macan boleh berjalan bergandingan dengan unta, singa bergandingan dengan lembu, serigala dengan domba.


“Anak-anak kecil bermain dengan ular, tetapi anak-anak itu tidak digigit ular. Isa hidup selama 40 tahun kemudian ia wafat dan disolatkan oleh kaum muslimin”.


Dalam membicarakan berkenaan penurunan Nabi Isa ke bumi pada akhir zaman, Al-Munawi, dalam buku Syarh al-Jami’ ash-Shagir mengatakan: Para ulama sependapat dengan faham turunnya Nabi Isa a.s tetap sebagai nabi, tetapi tetap menerapkan syariat Islam.


Di lain pembahasan, masih dalam buku Syarh al-Jami’ ash-Shagir, al-Munawi mengatakan: Dalam buku al-Mathaami’ diterangkan kesepakatan umat akan turunnya Nabi Isa, dan tiada seorang pun dari ulama syariah yang membantah hal itu. Hanya saja hal itu tidak diterima para ahli falsafah dan penganut ateisme.


Ijmak umat ini disepakati, bahawa Isa akan turun dan menegakkan syariat Muhammad. (al-Munawi).


Justeru, kedudukan Nabi Isa kelak bukan lagi sebagai nabi baru, tetapi penyambung syariat Rasulullah SAW.


Ia bagi umat Islam dan bukan untuk mendukung ajaran Kristian yang telah diseleweng oleh penganutnya selepas 300 tahun dari diangkatnya Nabi Isa ke langit.


Perlu ditegaskan, sewaktu turun ke bumi, Nabi Isa a.s bukan datang sebagai nasrani tetapi sebagai muslim yang menjalankan syariat dan ketentuan agama Islam.


Beliau akan solat bersama muslimin di masjid, menghadap kiblat, mengharamkan khamar, khinzir dan ideologi triniti yang jelas tidak mengesakan Allah. Selain menghancurkan salib yang menjadi sumber kemusyrikan.


Semua keterangan itu bersumberkan hadis-hadis Rasulullah yang sampai kepada umat Islam, antara lain:


l Isa Al-Masih a.s Mengikuti Syariah Islam dan Bukan Menghapusnya Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda: Tidak akan terjadi hari kiamat hingga Nabi Isa a.s turun (ke bumi) menjadi seorang hakim yang bijaksana dan pemimpin yang adil, menghancurkan salib, membunuh babi-babi, meletakkan ufti, harta melimpah-ruah hingga tidak ada seorangpun yang menerimanya. (diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Kitabul Buyu’ bab Qatlil Khinziri no. 2222, Kitabul Mazhalim bab Kasri Ash-Shalib wa Qatlil Khinziri no. 2476, Kitab Ahaditsil Anbiya` bab Nuzuli Isa bin Maryam no. 3448, 3449; Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabul Iman bab Nuzuli Isa bin Maryam Hakiman Bisyariati Nabiyyina Muhammad SAW no. 242; Al-Imam At-Tirmidzi, no. 2233)


Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahawa dia ada mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sekumpulan dari umatku akan memperjuangkan kebenaran dan akan berterusan kehadiran kumpulan seumpama itu sehingga Hari Kebangkitan (Hari kiamat). Isa anak Maryam akan turun, ketua kumpulan itu akan mengajaknya bersama mereka dan menjadi imam solat mereka, tetapi baginda (Nabi Isa) akan berkata: Tidak, sebahagian dari kamu adalah ketua kepada yang lain. Ini adalah satu penghormatan kepada umat Islam ini. (Sahih Muslim, jilid 1, muka surat: 155)


Berdasarkan kepada beberapa riwayat dan hujah para ulama jelas bahawa Nabi Isa a.s pasti akan turun dan menjadi makmum kepada Imam Mahdi sebagai pengiktirafan baginda terhadap Imam Mahdi yang menjadi umat Nabi Muhammad SAW.

Wednesday, February 25, 2009

Yahudi Pendatang Di Tanah Arab


DI Zaman Pra Islam iaitu di Semenanjung Arab dikatakan terdapat lebih 20 kabilah yang terdiri daripada puak-puak Yahudi. Ini menjadikan terdapat sejumlah besar penduduk di semenanjung itu terdiri daripada kaum Yahudi selain daripada bangsa-bangsa Arab yang lain.


Tetapi adakah puak-puak Yahudi ini merupakan penduduk asal Tanah Arab dan membentuk negara bangsa Yahudi mereka di situ? Pastinya mereka sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, Yahudi merupakan kaum yang terpaksa migrasi dari satu tempat ke suatu tempat yang lain, mencari bumi mana yang sudi menerima mereka.

Jika kita menyingkap sejarah asal usul kaum ini, mereka juga dikenali juga sebagai Bani Israel bermaksud bangsa yang berketurunan Israel.

Fakta mengenai Israel yang mesti kita ketahui bahawa Israel berasal dari perkataan Ibrani yang bermaksud 'orang yang berjalan di malam hari'.

Iaitu satu gelaran yang diberikan kepada Nabi Yaakob a.s, iaitu nabi kesepuluh lahir selepas Nabi Adam a.s. Nabi Yaakob dikatakan selalu mengembara dengan memulakan perjalanannya di waktu malam, manakala berehat semasa siangnya dan membuat persediaan untuk meneruskan perjalanan pada waktu malam berikutnya.

Gelaran itu menjadi asal usul kepada kaum yang lahir daripada anak-anak Nabi Yaakob yang seramai 12 orang itu, yang turut dikenali dengan gelaran "Al Asbaath."

Antara anak-anak baginda itu ada yang diangkat sebagai nabi seperti Nabi Yusuf bagi meneruskan syariat Allah yang diperturunkan kepada nabi-nabi terdahulu, iaitu Nabi Ishak, Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim.

Nabi-nabi lain yang lahir dari keturunan ini, termasuklah Nabi Ayyub, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Zulkifli, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa, Nabi Yunus, Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan Nabi Isa.

Sehinggalah sejarah bangsa ini melewati 587 (atau 586) Sebelum Masihi akibat penempatan mereka di Jerusalem diserang dan dihancurkan oleh Raja Nebuchadnezzar iaitu raja Kaum Chaldea dari Babylon (Iraq).

Peristiwa ini merupakan kali pertama orang Yahudi dihalau keluar dari Israel (Jerusalem) dan ada sebilangan yang ramai daripada mereka ditawan dan dibawa ke Babylon.

Serangan ini tidak sahaja menghancur dan memusnahkan negara mereka malah termasuk juga haikal (kuil-kuil) Yahudi. Namun mereka terpaksa juga meninggalkan Jerusalem mencari penempatan lain untuk meneruskan kehidupan.

Melarikan diri dan perjalanan mencari dunia baru itu akhirnya, menyaksikan ada kalangan mereka sampai di bahagian utara Hijaz dan apabila diterima baik oleh penduduk asal Arab di situ, pendatang Yahudi terus menetap di kawasan-kawasan utara semenanjung Tanah Arab itu.
Lebih ramai Yahudi yang melarikan diri ke kawasan tersebut sehingga mereka berjaya membentuk penempatan Yahudi yang besar iaitu di Yathrib (nama lama bagi Madinah), Khaibar dan Taima.

Mereka kemudiannya membuka lebih banyak perkampungan-perkampungan Yahudi, benteng dan kubu bagi tujuan mempertahankan diri daripada serangan musuh.

Pendatang-pendatang Yahudi itu kemudiannya mula menyebarkan agama mereka di kalangan penduduk-penduduk Arab yang berada di persekitaran mereka, sehinggalah kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Sebagaimana yang kita sedia ketahui, Yahudi berjaya membentuk satu komuniti yang kuat terutama di Yathrib. Kabilah-kabilah Yahudi yang berjaya membentuk pengaruh yang kuat dan terkenal, termasuklah Kaibar, Mustaliq, Nadir, Quraizah dan Qainuqa.

Jadi telah berlaku asimilasi agama dan kaum yang jika sebelum ini agama Yahudi itu dianuti oleh bangsa Israel itu sahaja. Namun mereka nampak ada kepentingan, jika agama Yahudi itu tersebar di kalangan penduduk asal atau orang Arab itu sendiri kerana menyedari status mereka yang sebenarnya berasal daripada kaum pendatang.

Fenomena ini menyebabkan ada pihak yang menyebut terutama di kalangan bangsa Arab, Yahudi dan Islam itu sebenarnya saling bersaudara. Walaupun berbeza agama tetapi sebenarnya kedua-dua kaum ini masih mampu untuk hidup berpakat dan berjiran tanpa ada sebarang prejudis kaum atau perkauman.

Tetapi bagaimana dikatakan agama Yahudi itu menjadi hak anutan kepada bangsa-bangsa Yahudi sahaja, tidak bangsa lain yang ada di muka bumi ini? Adakah anda mengetahui fakta sejarah mengenainya?

Pakar Sejarah terkenal, Harun Yahya (Adnan Oktar) dalam bukunya, Kaum-kaum Yang Pupus (Terbitan Saba Islamic Media, 2004) menulis Kitab-Kitab Perjanjian Lama (Taurat) seolah-olah menggambarkan Nabi Ibrahim seperti menerangkan dua individu berbeza.

Seorang dikenali sebagai Abraham dengan versi mereka sendiri dan seorang lagi Ibrahim sebagaimana kisahnya diceritakan dengan benar dan tepat seperti terkandung dalam al-Quran.
Menurut Harun, tidak ada satu cerita atau kisah Nabi Ibrahim yang dilemparkan ke dalam api dan tindakannya memecahkan berhala-berhala kaumnya, Kaum Namrud disebut dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat).

Secara umum kitab itu hanya menyebut Nabi Ibrahim sebagai moyang kepada kaum Yahudi sahaja.

"Ternyata para pemimpin kaum Yahudi telah menggunakan pandangan Perjanjian Lama ini untuk mengetengahkan konsep "agama bangsa".

Mereka mempercayai bahawa bangsa mereka adalah terpilih oleh tuhan, justeru mereka mempunyai keagungan yang tiada tandingan berbanding bangsa-bangsa lain.

"Mereka dengan sengaja meminda kandungan Kitab Suci mereka sendiri dan menokok tambah serta memadamkan sesetengah kandungan demi kepentingan kepercayaan mereka," kata Harun.

Sementelah bagi penganut dan pengikut Kristian pula berpendapat Nabi Ibrahim yang dianggap sebagai moyang kaum Yahudi tetapi menurut mereka Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi tetapi seorang Nasrani.

"Mereka tidak mengendahkan konsep bangsa seperti Yahudi itu dan mengambil pendirian mereka sendiri, yang telah menyebabkan berlaku perselisihan antara kedua-dua agama itu," katanya.

Perselisihan ini telah disebut dalam al-Quran, iaitu; Wahai ahli-ahli Kitab! Mengapa kamu berani bertengkar mengenai agama Ibrahim, pada hal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan kemudian daripada zaman Ibrahim; patutkah kamu berdegil sehingga kamu tidak mahu menggunakan akal?....Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk agama Yahudi dan bukanlah juga baginda seorang Kristian. (Ali Imran: 65 - 68)

Turut disebutkan juga terdapat agama lain yang menjadi anutan kalangan penduduk Arab selain, Nasrani, Yahudi pada zaman sebelum keputeraan baginda Nabi Muhammad SAW.

Iaitu agama Majusi (menyembah api) iaitu kalangan penduduk Arab yang tinggal berdekatan atau berjiran dengan negara Parsi, negara asal agama ini. Agama ini juga dikatakan bertapak di Iraq, Bahrain dan kawasan-kawasan persisiran Teluk Arab yang berdekatan dengannya.

Atau anda pernah mendengar agama Sabiah? Agama ini juga merupakan satu lagi bentuk agama yang dikatakan menjadi anutan kepada sebahagian kecil penduduk Arab di Tanah Arab. Iaitu kaum Ibrahim al Kaldaniy dan juga dikatakan ramai penduduk Syam yang mempercayai agama ini. Namun akibat kehadiran dan kemaraan agama Nasrani dan Yahudi menyebabkan agama ini lemah dan semakin pupus.

Mereka yang menganut agama ini menggantungkan kepercayaannya kepada perjalanan bintang dan falak, berkeyakinan bahawasanya segala sesuatu itu, gerak dan diam, berjalan dan berhenti, semua itu berkait dengan bintang-bintang.

Mungkin ada menariknya kita ikuti corak kehidupan masyarakat Arab Jahiliah dengan lebih dekat lagi. Ikuti keluaran akan datang, bagaimana yang dikatakan dalam kejahilan itu mereka sebenarnya bertamadun seperti dalam bidang kesusasteraan, sehinggakan dinding-dinding Kaabah menjadi saksi kehebatan masyarakat Arab Jahiliah bersastera!

Tuesday, February 24, 2009

Membaca al-Quran Tanda Ucap Terima Kasih, Syukur.


KELEBIHAN al-Quran turut dibincangkan salah seorang sahabat bernama Abu Musa al-Asyari. Beliau memetik kata-kata mulia Nabi Muhammad SAW yang membandingkan orang yang suka membaca al-Quran dan menghayatinya. Mereka terdiri daripada golongan berikut:-


Orang Islam yang membaca al-Quran umpama citrus (sejenis limau). Baunya harum dan rasanya lazat.


Ini menunjukkan, orang Islam yang benar-benar mentaati perintah Tuhan melaksanakan segala yang diperintahkan termasuk membaca al-Quran setiap hari. Mereka yakin, jalan itu adalah jalan mudah bagi berkomunikasi dengan Tuhan yang menciptakan.


Itu juga antara cara mengucapkan terima kasih bagi segala kurniaan Tuhan yang tiada batas. Tanpa meminta, Nabi Muhammad SAW menjelaskan mulianya kedudukan golongan ini sehingga diiktiraf dengan rasa lazat dan bauan harum dan menyenangkan.


Dengan janji seperti ini, orang Islam lebih giat mendekati al-Quran kerana memperoleh pelbagai kesenangan. Paling utama, hati menjadi tenang dan hidup menjadi lebih bahagia. Semuanya berkat membasahkan bibir dengan ayat al-Quran.


Orang Islam, tetapi tidak membaca al-Quran seperti buah kurma. Ia tidak berbau, tetapi rasanya sedap dan manis.


Ramai manusia yang tergolong dalam golongan ini kerana akhir zaman ini terlalu ramai manusia yang mengaku beragama Islam tetapi mencalit arang kepada kesucian Islam itu sendiri. Ini menjadi bahan senda dan gurauan rakan bukan Islam.


Masakan tidak, mengaku Islam tetapi perbuatannya langsung tidak menunjukkan budaya dan cara hidup Islam. Tuhan sangat membenci golongan seperti ini. Semua orang sedia maklum, mana mungkin agama suci mengajarkan amalan buruk kepada penganutnya.


Usahlah kita jadi manusia yang hanya memakai pakaian berjenama tetapi tidak menunjukkan kualiti. Apa gunanya menjadi manusia cantik luarannya tetapi busuk hatinya. Apa gunanya kita memakan buah yang cantik dan kelihatan menyelerakan di luarnya tetapi pahit dan busuk apabila dimakan. Fikirkanlah.


Orang yang mempersendakan agama Islam dikenali dengan gelaran munafik iaitu suka berpura-pura dalam kehidupan beragama. Walaupun mereka membaca al-Quran, mereka diibaratkan buah raihanah. Baunya sedap, tetapi rasanya pahit.


Sebenarnya, golongan ini adalah tali barut yang layak ditempatkan dalam neraka jahanam. Bukan dalam agama Islam saja, malah dalam pentadbiran negara, apabila ada golongan tali barut, pasti akhirnya menjatuhkan kerajaan itu.


Ia ibarat 'gunting dalam lipatan' yang dapat membunuh bila-bila masa saja. Golongan ini juga seperti 'musuh dalam selimut' yang dapat menyerang tidak kira masa. Mohonlah perlindungan Tuhan supaya tidak terbabit dengan manusia seperti ini.


Golongan munafik yang tidak membaca al-Quran diumpamakan seperti petola yang tidak mempunyai bau dan rasanya pahit. Golongan munafik membawa Islam dengan imej memalukan sehingga timbul pelbagai fitnah yang memburukkan agama Islam. Bagi mengetahui baik ataupun tidak orang itu, tidak cukup sekadar melihat luaran saja.


Kita perlu mengenalinya dengan lebih dekat supaya lahir rasa cinta seterusnya barulah ada kesudian untuk melamarnya. Mana mungkin kita berpuas hati membeli barang impian hanya dengan melihat di dalam katalog saja. Pastinya kepuasan memilih dan memiliki apabila kita dapat menyentuh dan membelai barang itu di depan mata. Wassalam.....

Monday, May 12, 2008

Kahwin Penyubur Rezeki


FITRAH kehidupan, daripada alam tumbuhan dan haiwan, malah manusia sejak zaman Nabi Adam, diciptakan berpasangan, ada lelaki dan perempuan supaya dapat mengembangkan zuriat bagi meneruskan kelangsungan hidup.

Manusia sebagai pentadbir atau khalifah yang bertanggungjawab memakmurkan bumi ini perlu mengembangkan keturunan, justeru mereka dikurniakan kecenderungan berkahwin dan beranak-pinak.

Hidup berpasangan melalui perkahwinan bukan menjadi amalan bagi sesetengah masyarakat tetapi semuanya menerima pakai sistem itu tanpa mengira pangkat, suku kaum dan agama. Cuma yang membezakan adalah caranya.


Tetapi dalam dunia siber hari ini, ada lebih selesa hidup bersendirian sama ada lelaki atau perempuan tanpa mahu memikirkan soal perkahwinan.

Bagi golongan ini, gaya hidup bujang lebih selesa dan menjamin masa depan. Mereka bebas bergerak, tiada halangan ke mana-mana dan terlepas daripada tanggungjawab sebagai suami atau isteri.

Bagi sesetengah perempuan, perkahwinan dikatakan mendatangkan kesusahan apatah lagi memikirkan jika mendapat suami yang panas baran, kaki judi, pemabuk atau penagih dadah.

Cerita negatif yang didengar dan disaksikan melalui filem dan drama menyebabkan mereka lebih suka gaya hidup bujang, malah ada yang tidak berminat mendapatkan pasangan hidup. Tetapi apa kata Islam?

“Pada dasarnya Islam mahu umatnya berkahwin. Walaupun perintah kahwin yang diturunkan Allah asalnya harus, tetapi ia boleh bertukar menjadi wajib dan sunat.

“Malah, ia juga boleh menjadi makruh dan haram ,” kata penceramah bebas, Mohd Rani Awang Besar.

Menurutnya, agama menghukumkan wajib berkahwin sama ada lelaki atau perempuan apabila seseorang itu tidak mampu mengawal diri daripada fitnah berpunca dari mata, hati dan nafsu syahwat.

Hukum sunat kepada individu yang masih dapat mengawal diri, manakala makruh adalah ke atas mereka yang belum bersedia menghadapi gerbang perkahwinan.

Keharusan berkahwin boleh menjadi haram jika individu terbabit menghidap penyakit tertentu seperti HIV dan siflis, kerana memberi risiko kepada zuriat dan isteri.

Mohd Rani berkata, mereka yang tergolong wajib atau sunat berkahwin perlu menyegerakan perkahwinan kerana jika tidak berbuat demikian boleh menyebabkan timbulnya kemungkaran dan berdosa.

“Jika jatuh hukum wajib atau sunat kena berkahwinlah. Tidak berkahwin akan menyebabkan dosa kerana walaupun tidak berzina tetapi mata yang tidak boleh dikawal sudah mendapat dosa,” katanya.

Beliau berkata, apabila seseorang itu boleh hidup berdikari, tamat persekolahan dan tahu memikul tanggungjawab, mereka patut berumah tangga.

Tetapi, bagi mereka yang masih belajar di kolej atau institusi pengajian tinggi, tumpukan perhatian kepada ilmu.

“Masalah sekarang, sesetengah orang berfikir perkahwinan itu menyusahkan dan satu masalah. Bagi golongan ini, mereka tidak yakin dengan rezeki daripada Allah.

“Zaman Nabi Muhammad s.a.w dulu pun ada yang tidak mahu berkahwin kerana mahu memberikan tumpuan kepada ibadat tetapi, Nabi melarang dan mengatakan kepada orang terbabit,“aku beribadat dan aku juga berkahwin”.

“Nabi menggalakkan umatnya berkahwin kerana dapat mengembangkan zuriat, malah baginda akan berbangga dengan umat yang ramai.

“Berkahwin bukan alasan menjadi susah sebaliknya rezeki lebih murah.

“Banyak contoh orang lama yang berjaya hidup mereka walaupun peringkat awalnya susah. Jika tidak berkahwin lagi menyusahkan, bermacam-macam akibat di depan,” katanya.

Menurutnya, Islam agama terbaik, tiada halangan dalam soal perkahwinan seperti sesetengah ideologi lain yang melarang penganutnya berkahwin.

Justeru, beliau menasihatkan orang Islam khususnya muda-mudi memanfaatkan kelapangan dan keistimewaan yang diberikan di dalam Islam ini.

Banyak kebaikan diperoleh melalui perkahwinan. Selain mengembangkan keturunan, memelihara kesucian diri, memelihara pandangan dan kemaluan, paling penting memberikan ketenangan, kelapangan dan hidup dihiasi kemesraan.

Ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat 189, surah al-A'raf, bermaksud: “Dialah yang menciptakan kamu semua dari diri yang satu dan Dia mengadakan daripadanya pasangannya (isteri) untuk bersenang hati dan hidup mesra. Ketika dicampuri isterinya, mengandunglah ia dengan kandungan yang ringan, serta teruslah ia dengan keadaan itu (ke suatu waktu). Maka ketika ia rasa berat berdoalah kedua-duanya kepada Tuhan: Sesungguhnya jika Engkau kurniakan kami anak yang baik, tentulah kami menjadi dari orang yang bersyukur.”